Klenteng Tanpa Pintu & Bangunan Seribu Pintu

Mukharom.com Senin pagi kali ini saya terbangun di Ibukota Provinsi Jawa Tengah yakni Kota Semarang. Setelah semalaman tidur pulas karena lelahnya perjalanan Pekalongan – Semarang, ditambah perjalanan berjalan kaki ke penginapan. Saya menginap semalam di Sleep & Sleep yang ternyata lokasinya menyempil di Universitas AKI (UNAKI) Semarang. Saya menyewa satu tempat tidur capsule di level 2 (tingkat ke-2) karena penasaran ingin mencoba menginap ala-ala backpacker tersebut. Tempatnya cukup nyaman dan sama seperti namanya sleep & sleep, sangat sunyi dan hawanya membuat kita ingin tidur dan tidur.

Setelah bangun pikiran saya blank dan bingung ingin melakukan perjalanan kemana, saya sudah kontak penyewaan motor yang ada di Semarang dan ternyata Full tak tersisa. Akhirnya saya mandi untuk menyegarkan badan dan pikiran agar dapat menemukan ide untuk pergi ke lokasi yang ingin dituju.

Sarapan Sego Kucing

Seperti biasanya, pagi hari di Semarang perutku masih merasakan hal yang sama seperti di Kota lain yakni lapar. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari penginapan dan mencari penjual makanan terdekat yang ada di sekitar lokasi tersebut. Karena lokasinya yang dekat dengan Universitas, biasanya ada beberapa penjual makanan yang menjajakan makanannya di sekitar lokasi tersebut. Benar saja, di sebrang dari penginapan tersebut terdapat warung kecil yang menjajakan panganan seperti nasi kucing, gorengan, mie instan, serta minuman hangat. Saya pun langsung merapat dan mencari panganan yang hendak saya santap.

Saya memilih bungkus nasi gudeg, yang isinya berupa nasi, gudeg, 1/2 telur bulat, dan sambal. Porsinya sedikit dan cocok untuk mengganjal perut di pagi hari untuk memulai aktifitas. Tak lupa ditemani teh manis hangat untuk menambah stamina badan ini, serta gorengan tempe untuk menambah lauk yang ada. Kalau seperti itu makin berasa lagi di Jowo karena makan dengan makanan khas daerahnya yang sederhana.

Warungnya cukup ramai dengan orang yang silih berganti makan disana, ada juga pembeli yang membungkus untuk makan dirumah. Untuk harganya sangat sesuai dengan kantong seorang backpacker. 1 bungkus nasi gudeg, ditambah dengan 2 gorengan, dan es teh manis hangat hanya menghabiskan uang 10ribu rupiah. Di daerah bekasi mungkin hanya baru dapat nasi gudeg ditambah gorengan saja.

Wisata Religi menuju Klenteng Sam Poo Kong

Setelah mandi dan perut terisi oleh Nasi Gudeg akhirnya saya menemukan tujuan pertama saya, sepertinya tadi blank karena saya butuh makan dan mandi 😀 . Saya memilih menuju Klenteng Sam Poo Kong, salah satu tempat ibadah sekaligus objek wisata di Semarang. Lokasinya tidak begitu jauh hanya sekitar 5 KM dari tempat saya menginap, saya pun memilih untuk menggunakan Go Jek untuk transportasi kesana. Sesampainya di lokasi masih cukup sepi, maklum karena masih pagi dan mengingat ini hari Senin.

Tiket masuk untuk ke wisata Sam Poo Kong ini hanya Rp7.000,- untuk tiket masuk ke halamannya saja. Jika kalian ingin masuk ke area klenteng dan area beribadah, anda dikenakan biaya tambahan sebesar Rp20.000,-. Karena saya cukup penasaran dan ingin tahu soal klenteng tersebut, sayapun memilih tiket terusan dengan akses masuk full yakni dengan biaya Rp27.000,-. Kemudian saya masuk dan mengeksplor lebih lanjut apa saja yang ada di dalam wisata tersebut.

Sebelum memasuki klenteng, saya tertarik dengan sebuah patuh besar yang berdiri diujung dekat gerbang besar pula. Ternyata patung tersebut adalah Patung Cheng Ho atau dikenal juga sebagai Zheng He, ia merupakan Tokoh terkenal dari Tiongkok. Beliau memimpin armada muhibah mengunjungi negara-negara diseberang lautan sebagai Duta Perdamaian. Setelah melihat dan memoto patung besar tersebut, saya pun langsung menuju klenteng yang ternyata pintu masuknya ada di depan dan harus memutar cukup jauh dari patung berada.

 


Jika tidak salah ada 5 klenteng yang dapat digunakan untuk beribadah oleh penganutnya. Untuk masuk ke setiap klenteng tersebut saya agak ragu karena khawatir mengganggu proses beribadah atau ada larangan karena tempat tersebut sakral. Saya selalu melihat pengunjung lain terlebih dahulu atau bertanya kepada penjaga yang ada di klenteng tersebut. Ketika melihat lampion yang menggantung yang bertuliskan nama diatas klenteng tersebut, saya penasaran. Sayapun bertanya ke penjaga kelenteng tersebut, apasih makna dari lampion tersebut dan mengapa ada nama-nama yang tercantum.

Untuk memasang lampion di langit-langit atas klenteng tersebut dikenakan biaya 200.000 yang akan diletakkan selama 6 bulan. Nama yang ada di lampion tersebut merupakan nama yang meletakkannya, ada yang bertuliskan perorangan, pasangan, keluarga, dan ada juga Perusahaan. Pemasangan lampion tersebut diiringi dengan do’a yang dipanjatkan dari pemiliknya, misalkan agar dilancarkan usahanya atau hal lain. Karena pemasangan lampion tersebut ada saja yang datang bergantian, maka dibatasi waktu pemasangannya selama 6 bulan dan jika sudah melewati waktunya akan dilepas kembali.

Ada satu klenteng yang unik dan hanya dijaga oleh satu patung di depannya yakni patung kura-kura, patung tersebut digunakan sebagai penopang prasasti bertuliskan cina. Ternyata di dalam klenteng tersebut terdapat Jangkar yang dipercaya digunakan dulunya oleh para pelaut cina, mereka bilang jangkar tersebut asli dan sejarah dari pendahulunya. Saat saya perhatikan memang terlihat seperti jangkar yang umurnya sudah ratusan tahun, saya coba pegang dan amati jangkar tersebut berbahan kokoh dan memiliki bobot yang sangat berat.

Ada juga pahatan tembok yang menggambarkan dan menceritakan sedikit sejarah pada masa tersebut. Saya masih kurang memahami cerita dari gambaran yang ada, karena saya tidak memperhatikan secara urut akibat terpotongnya jalur dengan area ibadah. Saya pun tidak memaksakan diri untuk melewati area yang sakral dan digunakan untuk kebutuhan beribadah. Yang saya tidak kuat adalah mencium aroma asap dari barang-barang yang dibakar di klenteng tersebut. Baunya sangat tidak enak dan lama kelamaan akan membuat kepala pusing keleyengan. Akhirnya saya agak bergeser sedikit ke tempat yang baunya tidak terlalu menyengat di sekitar klenteng tersebut, hingga akhirnya pergi dan menuju lokasi lain.

Wisata Mistis ke Lawang Sewu

Sepertinya belum afdol kalau ke Semarang tapi belum mengunjungi Lawang Sewu ini. Biaya masuknya hanya Rp10.000,- untuk orang dewasa, sedangkan untuk pelajar Rp5.000,-. Awalnya saya agak ragu mengunjungi tempat ini karena cukup terkenal dengan hal mistis yang ada di area lawang Sewu tersebut. Namun karena lokasinya yang cukup dekat dengan Sam Poo Kong dan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengunjunginya.

Ternyata walaupun saat itu hari Senin, namum masih cukup banyak pengunjung yang mendatangi lokasi tersebut. Bahkan ada beberapa turis asing yang berkunjung juga ke tempat tersebut. Hal tersebut membuat rasa mistis tempat itu berkurang karena ramainya pengunjung yang datang. Namun karena sedikit rasa penasaran, saya mendatangi setiap sisi yang ada walau sepi sekaligus untuk sekedar melihat atau mengambil foto.

Lawang sewu sendiri merupakan tempat atau gedung yang sebelumnya digunakan untuk Kantor Kereta Api. Tak heran dalam tempat tersebut terdapat sejarah Kereta Api Indonesia dari masa ke masa, miniatur rel kereta, serta miniatur lokomotif kereta api. Terdapat juga barang-barang peninggalan yang dahulunya digunakan untuk berkomunikasi serta operasional Kereta Api.

Setelah saya keliling ke hampir seluruh sisi dan mengambil beberapa foto akhirnya saya menyudahi perjalanan. Karena badan yang mulai lelah karena panasnya cuaca di Semarang. Terlebih lagi saya mengejar waktu untuk melakukan check out dari penginapan saya di Sleep & Sleep sebelum jam 12. Seperti sebelumnya saya menggunakan Go-Jek untuk kembali ke lokasi penginapan dan siap-siap untuk membereskan barang bawaan yang ada.

Check Out dan Pindah Penginapan

Setelah batas waktu habis di Sleep & Sleep akhirnya saya pindah ke penginapan yang berada di Simpang Lima, tepatnya di The Backpacker dibelakang Mal Ciputra Semarang. Untungnya pemiliknya sangat ramah dan baik, karena jam 1 siang saya sudah bisa check-in tanpa dikenakan biaya tambahan. Kamarnya berbentuk kapsul yang cukup nyaman dan bersih, enak sekali untuk beristirahat. Saya beristirahat sebentar kemudian mencari makan siang yang ada di daerah sekitar.

Setelah selesai makan siang kaki saya merasa pegal dan sepertinya tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan keliling lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke lokasi terdekat dan berniat untuk sekalian ‘ngadem’ untuk mengobati panas yang sudah dilalui tadi. Saya memutuskan untuk menonton Film ‘Keluarga Cemara’ yang sedang tayang saat ini.

Lokasi penginapan saya lokasinya sangat dekat dengan Mal Ciputra Semarang, hanya sekitar 100 meter dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Cuaca di Mal cukup sejuk dibandingkan dengan cuaca diluar sana 😀 . Lumayan kaki saya tidak bertambah pegalnya dan sambil beristirahat juga di Bioskop.

Film keluarga cemara ini ngeselin, bikin baper seisi bioskop. Filmnya bercerita tentang kehidupan keluarga yang jatuh dari kondisi sebelumnya dan mempertahankan kehidupannya serta berusaha menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Tapi semua itu tidak berjalan mudah, banyak drama yang dilalui. Beberapa scene di film tersebut ‘ngena’ banget dan bisa bikin mewek, saya sebagai pria yang cuek pun ikut tersentuh hatinya 😛 .

Hingga film pun selesai, sore menjelang magrib saya habiskan untuk mencicil tulisan ini hingga beberapa paragraf. Kemudian malam tiba saya singgah sebentar di Simpang lima untuk mencari santapan di malam hari. Simpang lima di malam hari sama seperti kota lain, langitnya gelap dan banyak lampu menyala.

Hari esok akan tiba kembali, saya harus merencanakan perjalanan. Belum lagi menambah stamina yang sudah terkuras hari ini, sepertinya saya butuh tidur yang cukup. Cerita selanjutnya akan berlanjut di esok hari.

Have a good day!

Fajar Mukharom:
Related Post