Menyebrangi Lautan Tanpa Kapal

Mukharom.com Hari Kamis telah tiba, pagi ini saya terbangun di Kota Pahlawan yakni Surabaya. Saya menginap di CitiHub Hotel Pecindilan dan memilih kamar yang paling murah dengan shared Bathroom. Maklum, perjalanan ini merupakan perjalanan backpacker yang saya hemat-hemat budgetnya. Saya juga tidak terlalu memperdulikan kemewahan, yang penting tempatnya cukup nyaman dan dapat beristirahat atau tidur dengan pulas. Pagi ini saya melisting terlebih dahulu dan memastikan terhadap lokasi yang akan dituju, tidak lupa mandi terlebih dahulu untuk melakukan aktivitas.

Dengan sangat terpaksa, hari ini saya tidak berganti pakaian karena pakaian ganti telah habis dan belum selesai di Laundry. Untungnya karena aktivitas kemarin tidak begitu menguras keringat dan cuacanya tidak begitu panas, kaus yang saya gunakan tidak terlalu bau keringat atau bau yang tidak sedap. Bagi teman-teman lainnya jangan diikuti contoh seperti saya ya, apalagi yang kulitnya sensitif πŸ˜› , ini terjadi karena kecelakaan dan keadaan mendesak saja πŸ˜€ . Setelah mandi saya pun merapikan barang bawaan saya agar nantinya tidak terlalu terburu-buru saat check out dan bisa santai juga.

Setelah semua rapi dan wajah tampan walaupun dengan baju kemarin, saya pun pergi keluar mencari sarapan, karena kebetulan penginapan kali ini tanpa sarapan. Saya berjalan saya tanpa tau arah pasti dan mencari makanan yang kira-kira cocok. Tidak begitu banyak penjual makanan disini, apalagi yang bikin saya tertarik. Karena saya sudah berjalan berratus-ratus meter dan tidak ada yang aneh, sayapun memutuskan untuk makan Soto Ayam yang saya temui. Ditemani dengan Nutri Sari hangat dan Kerupuk kaleng yang menambah kenikmatan sarapan di pagi hari ini. Rasa Soto Ayam di setiap kota memiliki rasa khas yang berbeda, maka dari itu ga ngebosenin dan memiliki keunikan rasa masing-masing.

Menyebrang ke Pulau Madura bersama Gojek

Awalnya saya berencana menyewa motor di Kota Surabaya ini untuk memudahkan kesana kemari dan menyebrang ke Pulau Madura serta ke tempat wisata yang ada. Namun saya agak khawatir ketika mendengar cerita dari pengemudi Go-Jek yang saya tumpangi tentang Madura dan warganya. Bukan saya memandang negatif mereka, tapi saran dari para pengemudi yang saya tanya lebih baik jangan sendiri kesana, apalagi jika belum mengetahui persis daerah yang akan dikunjungi. Karena saya masih punya tanggungan dan keluarga dirumah menunggu, sayapun mengurungkan niat untuk pergi kesana sendiri dengan menyewa motor. Salah satu pengemudi menyarankan untuk naik Gojek saja, jika penasaran dengan Suramadu kita dapat memutarinya saja ke Pulau Madura kemudian kembali lagi ke Surabaya. Saya pun menerima masukan beliau.

Setelah selesai menyantap Soto Ayam tersebut, sayapun dengan segera membuka aplikasi dan memesan GoJek dengan tujuan Jembatan Suramadu. Jika dilihat dari Agenda saya, hari ini memang merupakan jadwal ke Madura dan saya tidak ingin membatalkan hal tersebut, walau hanya sekedar singgah sebentar. Setelah saya memesan dan mendapatkan driver, saya pun langsung chat beliau dan menanyakan apakah mau atau tidak mengantarkan saya memutari Suramadu dan mengantarkan saya ke tujuan selanjutnya, dengan catatan saya menambahkan ongkosnya sekian. Saya juga takut diturunkan di tengah-tengah jembatan Suramadu, karena menurut aplikasi titik tujuannya berada di tengah-tengah jembatan tersebut.

Dengan cepatnya beliau membalas mau, dan meluncur untuk menjemput saya. Saya sambil berdoa agar mendapatkan driver yang baik dan enak diajak ngobrol, ditambah motor yang nyaman, dan helm yang nyaman pula. Agar perjalanan ini menjadi pengalaman yang baik πŸ˜€ . Alhamdulillah bertemu dengan mas Jainuri orang asli Suroboyo dengan Motor Scoopy nya dan helm bogo, alhamdulillah doa saya dikabulkan πŸ™‚ . Kami pun langsung berangkat menuju Jembatan Suramadu sambil berbincang-bincang di Sepeda Motor.

Perjalanan menuju Jembatan Suramadu cukup lancar, lalu lintas di Surabaya pun sudah cukup tertib, terlebih lagi sudah berlakunya tilang online menggunakan CCTV di banyak lampu lalu lintas. Perjalanan yang ditempuh kali ini cukup jauh, untuk ke Suramadunya saja sekitar 11KM dari lokasi penginapan saya. Tibanya di pintu masuk Suramadu saya pun exited dan menyiapkan kamera di ponsel saya.

 

Untungnya saat ini akses masuk/melewati Jembatan Suramadu sudah di bebaskan biaya alias Gratis, itu semua berkat Presiden kita pak Joko Widodo. Terima kasih pak Jokowi πŸ˜€ (ini bukan black campaign yah hehehe). Ketika saya tanyadengan mas Jainuri, sebelumnya tarif untuk sepeda motor sekitar Rp3.000,- dan mobil sedan sebesar Rp20.000,-. Tarif tersebut berlaku tidak tetap, sempat beberapa kali mengalami penyesuaian tarif yang diturunkan atau dinaikkan hingga saat ini pun disesuaikan dan di gratiskan. Jadi pada pintu gerbang pun tidak mengalami antrian dan kemacetan untuk masuk ke Jembatan Suramadu tersebut.

Masuk ke area Jembatan dan disambut dengan lautan luas (wahhhh saya tercengang). Saya masih tidak percaya bahwa Indonesia punya jembatan yang panjang totalnya sekitar 5,5KM dan menyebrangi lautan antar pulau Surabaya dan Madura. Dari jembatan tersebut terlihat beberapa perahu besar di dermaga dan beberapa perahu nelayan yang mencari ikan di sekitar jembatan tersebut. Saya pun tidak lupa mengabadikan momen tersebut, ditambah lagi mas Januari menawarkan saya untuk berfoto dan berhenti diam-diam di Jembatan tersebut (jangan dicontoh ya, ga baik πŸ˜€ )

Kondisi di jembatan ini berangin, karena berada di tengah laut maka angin yang berhembus cukup kencang. Di tengah-tengah jembatan terdapat jalan layang yang bentuknya menanjak, hal tersebut dibuat agar perahu atau kapal besar dapat melewati bagian bawah jembatan tersebut. Bangunannya sangat berdiri kokoh diatas laut, saya sangat takjub melihatnya dan merasa tidak percaya Indonesia memiliki jembatan antar pulau πŸ˜€ . Hingga sampailah kami di ujung jembatan dan tiba di Pulau Madura tepatnya di Bangkalan. Saya tidak sempat mampir dan berhenti disana karena mengejar waktu dan tidak enak dengan mas Jainuri ini. Akhirnya kami memutar arah dan kembali lagi mengitari Jembatan Suramadu tersebut.

Di sekitar penghujung jembatan tersebut banyak sekali motor yang berhenti, saya pikir ada konvoi atau keluarga yang bersamaan akan pergi ke Surabaya. Ada juga motor yang berbalik arah melawan arus yang cukup membahayakan pengemudi lain, kami pikir ada barang yang jatuh atau sebagainya. Ternyata ketika kami sampai diujung, ada beberapa polisi yang sedang melakukan operasi lalu lintas dan memeriksa kelengkapan dari pengemudi tersebut. Banyak juga warga yang terkena tilang oleh polisi tersebut, untungnya mas Jainuri ini tertib berlalu lintas dan memiliki surat-surat lengkap. Kami pun bisa melanjutkan perjalanan tanpa dikenai tilang karena tidak bersalah.

Sampai di pulau Surabaya mas Jainuri menawarkan saya untuk berfoto dari sisi samping Jembatan Suramadu, wah sayapun langsung mengiyakan tawaran tersebut. Dia memang orangnya pengertian dan tau yang dicari wisatawan norak seperti saya πŸ˜€ . Oh iya perihal tilang tersebut memang beberapa kali kerap dilakukan, namun biasanya dilakukan di Surabaya, yakni memeriksa pengendara dari Madura yang menuju Surabaya. Pasalnya info dari mas Jainuri, terkadang sering masuk motor bodong atau tanpa surat-surat ke Surabaya. Atau bahkan warga yang kurang memerhatikan keselamatan dengan tidak menggunakan helm. Itu semua dilakukan agar warga lebih tertib dan memahami keselamatan lalu lintas πŸ™‚

Belajar Sejarah di Museum 10 November

Setelah selesai berfoto dari sisi Jembatan Suramadu, kami pun melanjutkan ke tujuan selanjutnya yakni menuju Museum 10 Nopember Surabaya. Saya cukup penasaran dengan sejarah yang sudah mulai pudar dipikiran saya, ditambah lagi ingin sekalian ngadem di dalam Museum tersebut karena cuaca sudah mulai panas. Sebelum sampai dan memasuki di Museum tersebut saya ditawarkan untuk berfoto terlebih dahulu di KM 0 Jawa Timur, saya pun tidak menolak kesempatan tersebut.

Foto pun sudah selesai, dan saya melanjutkan perjalanan ke museum tersebut yang sudah nampak dari KM 0 tempat kami berhenti. Tiba disana saya pun langsung disambut dengan Monumen Proklamasi yakni patung Bung Karno dan Moh Hatta yang sedang memproklamirkan Proklamasi. Di tengah-tengah area tersebut terdapat Monumen Tugu Pahlawan sebagai penanda dan rasa terima kasih atas jasa-jasa Pahlawan Surabaya terkait peristiwa 10 November 1945.

Karena diluar cuacanya cukup panas, saya pun langsung memasuki ke area dalam museum tersebut. Tiket masuknya hanya sebesar Rp5.000,- untuk orang dewasa maupun anak-anak. Sayapun langsung masuk dan turun ke bawah dan disambut dengan bingkai-bingkai foto yang bercerita sejarah peristiwa 10 November 1945. Foto tersebut dijejerkan secara urut hingga menuju ke ruang utama tempat pameran itu berada.

Di ruang pameran utama tersebut terdapat patung yang mengambarkan peristiwa sejarah tersebut. Selain itu terdapat juga benda-benda bersejarah, mulai dari naskah atau dokumen dari tahun tersebut, seragam yang digunakan para pahlawan, dan benda serta senjata yang digunakan berperang. Yang unik disana adalah terdapat benda berbentuk radio jadul yang ketika ditekan dapat mengeluarkan rekaman suara Bung Karno saat akan memproklamirkan proklamasi.

Di lantai atas terdapat diaroma statis yang sangat menarik. Diorama yang ada bukan sekedar berbentuk miniatur & penjelasan saja, melainkan disajikan juga dalam bentuk animasi & suara yang dapat dipahami. Sayangnya layar yang diperlihatkan cukup kecil dan kurang nyaman dipandang karena video berdurasi cukup lama sedangkan pengunjung dipaksa untuk berdiri menonton. Padahal ada 4 diorama dan 4 episode vide yang bisa ditonton. Sebenarnya ceritanya cukup menarik, namun karena posisi menonton yang kurang nyaman saya tidak menyelesaikan semua video tersebut.

Setelah puas berkeliling museum sepuluh november dan seluruh area museum & tugu tersebut, saya pun memutuskan untuk kembali ke penginapan. Pihak penginapan pun sudah menelepon saya dan menanyakan apakah ingin diperpanjang atau tidak, saya pun menjawab tidak karena ingin berkunjung ke wisata lain dan berpindah penginapan. Seperti biasa saya menggunakan Go-Jek untuk menuju lokasi penginapan saya tersebut.

Check Out dan Mengambil hasil Laundry

Untungnya saya sampai ke CitiHub Hotel dengan tepat waktu sebelum jam 12 siang. Saya langsung merapikan barang-barang dan mengecek ulang kamar agar tidak ada yang tertinggal. Karena sebelumnya sudah saya siapkan, proses merapikan hanya dilakukan sebentar dan saya langsung melakukan checkout dan mengambil deposit yang sudah diberikan. Kemudian saya menitipkan tas terlebih dahulu di recieptionis untuk mengambil hasil laundry yang sudah dititipkan sore kemarin.

Saya sempat. khawatir apakah cucian saya sudah selesai dan kering serta dapat diambil atau belum. Karena kemarin saya berpesan akan diambil sekitar sore, namun saya menjemputnya di siang hari. Alhamdulillah walaupun belum dirapikan, namun hasil laundry sudah selesai dan dapat diambil. Saya sempat menunggu beberapa saat karena beliau melipatkan terlebih dahulu pakaian saya. Saya kaget ketika menanyakan biayanya, yakni hanya 5ribu rupiah untuk 5 kaus, 5 compact disk dan 1 celana levis. Maklum, saya sebelumnya belum pernah melakukan laundry di luar terutama untuk pakaian sehari-hari.

Ketika saya kembali ke hotel, hujan pun melanda. Saya harus mempercepat langkah kak dengan berlari agar tidak basah kuyup ketika sampai ditujuan. Sampai di hotel pun saya kembali mengambil tas dan merapikan ulang dan menyusun pakaian agar ringkas dan muat di tas yang tidak besar sambil menunggu hujan reda. Ketika hujan reda, saya pun langsung memesan kembali GoJek ke penginapan selanjutnya yakni di House of Dharmawan di daerah Mulyorejo. Saya memilih penginapan tersebut karena terlihat cukup nyaman dan harganya masih masuk budget, serta dekat dengan tujuan saya selanjutnya.

Gagalnya Rencana Bersenang-senang

Sampai di penginapan saya sudah dapat check in ke kamar yang dipesan. Ketika masuk kamar benar saja sesuai dengan ekspetasi saya dan cukup nyaman. Saya pun beristirahat sejenak dengan tiduran diatas kasur di kamar tersebut untuk menghilangkan lelah perjalanan sebelumnya. Kebetulan hujan pun turun saat itu, walau tidak besar. Akhirnya saya pun kebablasan dan tidur selama 1 jam. Memang faktor kelelahan ditambah cuaca sangat mendukung hal tersebut terjadi πŸ˜€

Saya pun terbangun dan segera mencari makan siang di sekitar penginapan. Target utama saya adalah memakan nasi Rawon yang ada di dekat sini. Walaupun sempat tergoda dengan KFC dan MC Donals yang ada di sebrang jalan, akhirnya saya pun menemukan penjual Nasi Rawon di daerah tersebut. Walaupun rasanya tidak begitu spesial, namun rasanya cukup enak dan dapat mengganjal perut di siang hari.

Makan siang kali ini saya lakukan agak cepat, karena ingin menuju ke Atlantis Land Surabaya untuk refreshing dan bermain dengan wahana yang ada. Namun saya hendak bersiap-siap terlebih dahulu dan menaruh jajanan yang saya beli di kamar. Tetapi…… kehendak berkata lain. Hujan kembali turun dengan deras, membasahi Kota Surabaya dan sekitarnya. Hujan tersebut berlangsung cukup lama, walau sempat mereda beberapa saat tapi hujan datang kembali. Saya tidak mau memaksakan diri untuk pergi karena memikirkan kesehatan serta nanti disana, khawatir yang didapat hanya kekecewaan karena tidak bisa menikmati wahana akibat hujan.

Akhirnya saya tetap beristirahat di kamar, sambil mengemil, sambil menonton hiburan, sambil menulis cerita ini. Hujan berlangsung cukup awet diluar, saya hanya bisa di kamar saja sambil melanjutkan aktifitas. Hingga akhirnya hari berganti menjadi malam, dan hujan masih terus turun walau sudah mereda. Malam ini hanya dapat merencanakan aktivitas di hari esok, sambil menonton debat paslon Presiden.

Semoga kelak esok hari berjalan sesuai rencana, dan presiden yang terpilih nanti merupakan pilihan terbaik.

Have a good day!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *